27
Ja
Arti Aqiqah Merujuk Kepercayaan Islam
27.01.2017 05:48


Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya disebut ‘Aqiqah, karena dipotongnya sosial binatang beserta penyembelihan ini. Ada yang mengatakan jika aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih, disebut demikian sebab lehernya dipotong Ada juga yang mengatakan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serat yang ada pada kepala si budak ketika ia keluar atas rahim embuk, rambut berikut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah merupakan penyembelihan domba/kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, / 21. Jumlahnya 2 sudut untuk momongan laki-laki dan 1 termuda untuk budak perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak momongan tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Nabi bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang serupa dan budak perempuan tunggal kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak tersebut tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Atas Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, jadi sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua huru-hara darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi oleh sebab itu hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan mono kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW tahu ber ‘aqiqah untuk Patut dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, beliau memberi identitas dan mengharuskan supaya dihilangkan kotoran dari kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di AI-Mustadrak surah 4, sesuatu. 264]

Bukti: Hasan & Husain adalah cucu Nabi SAW.

Daripada Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Hasan, dia berkata: Rasulullah berkata: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada orang2 miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Daripada Abu Buraidah r. a.: Aqiqah itu disembelih saat hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi & Thabrani).

Patokan Aqiqah Anak adalah sunnah (muakkad) serasi pendapat Kepala Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i serta sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan lazimnya ulama cakap fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sambil kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai objek yang sunnah muakkadah adalah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di dalam hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan guyur darinya tahi kotok (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujar: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah titah, namun tidak bersifat tentu, karena siap sabdanya yang memalingkan daripada kewajiban ialah: “Barangsiapa di antara kalian siap yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, jadi silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Bubuk Dawud serta An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan kaidah yang memutar perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Raja berkata: Aqiqah itu menyerupai layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), tidak boleh pada aqiqah tersebut hewan yang picak, kurus, patah urat, dan perih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Dan harus dihindari dalam fauna aqiqah tersebut cacat-cacat yang bukan diperbolehkan dalam qurban.

Buraidah berkata: Dahulu kami pada masa jahiliyah apabila cela seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kibas dan menconteng kepalanya dengan darah kambing itu. Jadi setelah Sang pencipta mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, memotong (menggundul) penyelenggara si balita dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Debu Dawud bab 3, hal. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang momongan, mereka melumuri kapas secara darah ‘aqiqah, lalu tatkala mencukur rambut si budak mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW berkata, “Gantilah kebiasaan itu dengan minyak wangi”.[HR. Putra Hibban beserta tartib Rumpun Balban bab 12, sesuatu. 124]

Menunaikan aqiqah dari sisi kesepakatan karet ulama adalah hari ketujuh dari kelahiran. Hal tersebut berdasarkan hadits Samirah dalam mana Nabi SAW menitahkan, “Seorang anak terikat beserta aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh & diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Dan jika tidak pun, maka saat hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Kepala Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) atas dasar panggilan, maka sekiranya menyembelih saat hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah itu telah semua. Karena kepercayaan ajaran Islam adalah mempermudah bukan mengalutkan sebagaimana firman Allah SWT: “Allah menodong kemudahan bagimu dan gak menghendaki kegaduhan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini menurut sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak tersebut tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, & diberi sebutan. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan sebab At Tirmidzi)

Dan apabila tidak bisa melaksanakannya saat hari ketujuh, maka sanggup dilaksanakan saat hari di empat belas, dan jika tidak bisa, maka di hari di dua persepuluhan satu, ini berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah dari ayahnya mulai Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih dalam hari ketujuh, ke empat belas, & ke 2 puluh mono. ” (Hadits hasan babad Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga minggu masih tidak mampu oleh sebab itu kapan pula pelaksanaannya dalam kala sungguh mampu, karena pelaksanaan di hari-hari ke tujuh, di empat belas kasihan dan ke dua persepuluhan satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama tidak wajib. Dan boleh pun melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Bayi yang menyisih dunia pra hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, lebih dari itu meskipun bocah yang miskram[cak] dengan tumpuan sudah berusia empat kamar di dalam rahim ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada abi si bocah. Namun kalau seseorang yang belum pada sembelihkan fauna aqiqah oleh orang tuanya hingga ia besar, dipastikan dia dapat menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan kalau tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri jadi hal tersebut tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika gak bisa, oleh karena itu pada hari keempat belas. Dan jika tidak bisa agaknya, maka di hari kedua puluh satu. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi pikulan ayah.

Akan tetapi demikian, kalau ternyata ketika kecil ia belum diaqiqahi, ia sanggup melakukan aqiqah sendiri dalam saat gede. Satu ketika al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah begitu besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad meningkah, “Menurutku, jika ia belum diaqiqahi pada kecil, oleh sebab itu lebih baik melakukannya seorang diri saat mantap. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para pengikut Imam Syafi’i juga menganggap demikian. Pikir mereka, anak-anak yang telah dewasa yang belum diaqiqahi oleh manusia tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Banyak Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal ialah satu kontrol baik untuk laki-laki ataupun pun untuk perempuan, sesuai perkataan Putri Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain tunggal domba satu domba. ” (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud serta Ibnu Al Jarud)

Kalian harus pulih bahwa Laksmi dan Husain adalah budak kembar. Oleh karena itu pada wahid kelahiran ini disembelih dua ekor wedus.

Namun yang lebih tertinggi adalah dua ekor untuk anak laki-laki dan 1 upaya untuk anak perempuan berlandaskan hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menitahkan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki dua ekor domba dan mulai anak cewek satu ekor. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Kepala Ahmad & Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang memiliki arti: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor domba yang selevel dan daripada anak perempuan satu sudut. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan beserta ‘aqiqah

Yang berhubungan secara sang anak

1. Disunnatkan untuk meluluskan nama & mencukur rambut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir dalam hari Unik, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

2. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kibas sedang untuk anak cewek 1 kontrol.

3. ‘Aqiqah ini paling utama dibebankan lawan orang tua si anak, namun demikian boleh pun dilakukan sambil keluarga yang lain (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah itu hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Indah Mentah Atau Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan pada kondisi telah dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor wedus untuk anak laki-laki dan satu ekor kibas untuk bani perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Ketuat aqiqah dikasih kepada tetangga dan melarat miskin pula bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim. Malahan jika hal itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya & dalam rancangan dakwah. Dalilnya adalah tutur Allah, “Mereka memberi menjarah orang melarat, anak yatim, dan terpidana, dengan sentimen senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada saat itu adalah orang-orang kafir. Namun demikian, keluarga pula boleh memakan sebagiannya.

Yang berhubungan secara binatang sembelihan

1. Dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah wedus, tanpa menelaah apakah pelupuk mata atau perempuan, sebagaimana riwayat di kaki gunung ini:

Atas Ummu Kurz AI-Ka’biyah, bahwasanya ia relasi bertanya kepada Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka petuah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor kambing dan untuk anak perempuan satu upaya kambing. Bukan menyusahkanmu bagus kambing ini jantan sekalipun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum memperoleh dalil lainnya yang menampakkan adanya hewan selain wedus yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Zaman yang dituntunkan oleh Rasul SAW berdasarkan dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 mulai kelahiran bani tersebut. [Lihat pendapat riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian uci-uci Aqiqah

Akan halnya dagingnya oleh karena itu dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sekitar dagingnya, serta mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan tidak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menimba kerabat serta tetangga untuk menyantap persembahan daging aqiqah yang telah matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada umat islam, dan mahir mengundang teman2 dan moyang untuk menyantapnya, atau boleh juga dia mensedekahkan semuanya. Syaikh Putra Bazz berkata: Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya serta memasaknya kemudian mengundang orang2 yang kamu lihat pantas diundang daripada kalangan suku, tetangga, teman2 seiman serta sebagian orang faqir untuk menyantapnya, serta hal sedarah dikatakan oleh Ulama-ulama yang terhimpun di dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Bani

Tidak diragukan lagi jika ada siratan antara makna sebuah pamor dengan yang diberi identitas. Hal itu ditunjukan beserta adanya sekitar nash syari yang menyatakan hal tersebut.

Dari Bubuk Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Tuhan mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 dan Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menggubris sunah, ia akan meraih bahwa makna-makna yang tersembunyi dalam sebutan berkaitan dengannya sehingga seolah-olah makna-makna itu diambil darinya dan seumpama nama-nama tersebut diambil mulai makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui buah nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits dalam bawah itu:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang terhadap Nabi SAW, beliau pun bertanya: “Siapa namamu? ” Aku elakan: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Rumpun Al-Musayyib mengatakan: “Orang ini senantiasa bergaya keras lawan kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang elok untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban wali. Di antara nama-nama yang baik yang cukup diberikan ialah nama rasul penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana tutur beliau: Dari Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari segi ajaran Agama islam, silahkan fraksi:

Memberi Sebutan Bayi / Anak Berdasar pada Islami


Memotong Rambut

Mencukur rambut merupakan anjuran Rasul yang luar biasa baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru wujud pada hari ketujuh.

Di hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terjepit dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi sebutan, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik menceritakan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Hasan dan Husein lalu sira menyedekahkan galuh seberat serat tersebut.

Tiada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut pantas dilakukan beserta rata; gak boleh hanya mencukur beberapa kepala dan sebagian yang lain dibiarkan. Tentu saja semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- bertambah besar pun sedekahnya.

harga aqiqah bandung Seruan Menyembelih Hewan Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Memiliki arti: Dengan identitas Allah, akur Allah terimalah (kurban) atas Muhammad & keluarga Muhammad serta atas ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Orang islam, Abu Dawud)

Doa bayi baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Memiliki arti: Aku berlindung untuk keturunan ini secara kalimat Allah Yang Baik dari sekalian gangguan syaitan dan sindiran binatang beserta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi segalanya yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Pendapat Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu situs punya beberapa panduan diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di meneladani Nabiyyullah Ibrahim PASAK tatkala Allah SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di dalam aqiqah berikut mengandung unsur perlindungan daripada syaitan yang dapat meranyau anak yang terlahir ini, dan tersebut sesuai beserta makna hadits, yang artinya: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Sehingga Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Tuhan lebih terjamin dari gangguan syaithan yang sering memegang anak-anak. Hal inilah yang dimaksud sama Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah ialah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di hari perkiraan. Sebagaimana Imam Ahmad menunjukkan: “Dia tergadai dari menurunkan Syafaat untuk kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan paham taqarrub (pendekatan diri) lawan Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud mencicip syukur untuk karunia yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala secara lahirnya sang anak.

5. Aqiqah sebagai sarana membuka rasa gembira dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang dengan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara bangsa.

Dan sedang banyak sedang hikmah yang terkandung pada pelaksanaan Syariat Aqiqah berikut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Abu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin dan diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Butala al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free website powered by Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!